Gigi Hipersensitif, Sakit tapi Tidak Berlubang

JEMBER – Belakangan ini Pak Sardi sering merasa sakit pada giginya, rasa ngilu tersebut sering datang saat Pak Sardi minum bahkan terkadang saat berbicara. “Padahal saya sudah rajin menyikat gigi, dan sepertinya gigi saya tidak bolong”, keluhnya saat ke dokter gigi.

Disampaikan oleh Spesialis Periodonsia RS Bina Sehat Jember, drg. Dian Widiyaningrum, MDSc, Sp.Perio, keluhan seperti yang dialami Pak Sardi dalam dunia kedokteran sering disebut sebagai hipersensitifitas dentin atau dentine hypersensitivity, dan merupakan hal yang banyak terjadi. Penderita sering merasa ngilu yang tajam dan biasanya berlangsung singkat.

“Penyebab hipersensitif dentin bermacam-macam, tetapi secara umum terjadi karena akar gigi terbuka sehingga menyebabkan pori-pori yang terdapat pada dentin ikut terbuka,” ujar Dian yang praktek tiap Senin & Rabu jam 15.30 WIB itu.

Dentin adalah lapisan di dalam gigi, pada mahkota gigi dentin tertutup oleh email dan pada akar gigi tertutup oleh lapisan cementum, jadi saat lapisan email atau cementum hilang dentin akan langsung menerima rangsangan dari rongga mulut yang mengakibatkan rasa ngilu. Rangsangan yang menimbulkan rasa sakit bisa berupa perubahan suhu (terutama saat mengkonsumsi makanan atau minuman yang dingin), rangsangan kimia dari makanan yang bersifat asam, juga rangsang mekanis misalnya saat penderita menyikat gigi.

“Pada beberapa orang bahkan hembusan udara saat bernafas atau berbicarapun dapat menimbulkan rasa nyeri,” kata Dian.

Dian melanjutkan, terdapat beberapa hal yang menyebabkan dentin akhirnya terbuka dan akhirnya sensitif. Kebersihan rongga mulut yang kurang baik dapat dan adanya karang gigi dapat menyebabkan gusi turun atau resesi sehingga akar gigi terlihat. Gusi yang turun juga dapat disebabkan adanya penyakit periodontal (kerusakan pada tulang penyangga gigi), dan kebiasaan menyikat gigi yang kurang baik.

“Menyikat gigi dengan sikat yang kasar dan keras, tekanan yang terlalu kuat, dan arah horizontal dalam waktu lama dapat mengikis lapisan email dan cementum yang melapisi dentin. Saat diperiksa sering kali bagian leher gigi pasien terlihat aus, membentuk cekungan seperti huruf V di dekat akar gigi,” terangnya.

Dikatakan, ada berbagai cara untuk mengatasi gigi yang sensitif sesuai dengan penyebab dan tingkat kerusakan yang terjadi. Pada tahap awal biasanya pada gigi pasien akan diaplikasikan bahan-bahan atau senyawa yang bisa melapisi dan menutup pori-pori pada dentin.  Selain itu penyebab gusi turun juga perlu diatasi. Jika terdapat karang gigi maka perlu dibersihkan agar gusi bisa kembali ke posisi semula, sedangkan jika sudah terdapat kerusakan pada tulang perawatan yang diperlukan akan lebih kompleks.

Selain perawatan di dokter gigi penderita gigi sensitif juga dapat melakukan perawatan di rumah. Dokter gigi biasanya akan menyarankan penggunaan pasta gigi khusus untuk gigi sensitif. Penggunaan pasta gigi tersebut secara rutin dapat mengurangi rasa ngilu setelah pemakaian minimal selama 4 minggu. Cara menyikat gigi juga perlu diperhatikan, sebaiknya menggunakan sikat gigi yang lembut (soft), dengan gerakan menyapu dari arah gusi ke gigi, dan tidak menggunakan kekuatan yang terlalu besar. Hindari juga makanan yang bersifat asam dan perubahan suhu yang drastis. Jika akan sikat gigi sesudah makan sebaiknya beri jeda waktu selama minimal satu jam.

“Penyembuhan gigi sensitif biasanya membutuhkan waktu (tidak langsung hilang). Jika keluhan tetap ada setelah perawatan maka bisa dilakukan perawatan dengan mematikan saraf gigi. Prosedur bedah ringan berupa cangkok gusi juga dapat dilakukan untuk mengembalikan gusi yang terlanjur turun,” pungkasnya. (RSBS)

Sumber : Radar Jember (10/02/2021)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *