Perlukah Vaksin bagi Pasien Kardiovascular ?

JEMBER – Sejak ditetapkan oleh WHO sebagai pandemik global pada 11 Maret 2020, sampai saat ini COVID-19 masih menjadi permasalahan kesehatan yang berdampak serius di banyak negara. Bahkan di Indonesia telah tercatat sebanyak lebih dari 900.000 kasus. Salah satu solusi yang dapat diharapkan untuk memutus mata rantai COVID-19 ialah dengan pemberian vaksin.

Disampaikan oleh Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh yang praktek di RS Bina Sehat Jember (RSBS) dr. Dwi Ariyanti, Sp.JP, FIHA, umumnya gejala yang mungkin dialami oleh seseorang terinfeksi COVID-19 antara lain demam, nyeri telan, batuk, kesulitan bernafas, nyeri persendian, lemas, mual, muntah, dan diare, hidung tersumbat hingga gangguan indera penciuman. Pada pasien yang bergejala berat akan mengalami suatu kondisi acute respiratory distress syndrome (ARDS), sepsis, hingga syok sepsis dan kegagalan organ multiple yang dapat berujung pada kematian.

“Orang lanjut usia (lansia) dan orang dengan penyakit penyerta, seperti tekanan darah tinggi, gangguan paru dan jantung, serta diabetes mellitus memiliki risiko lebih besar mengalami perburukan jika terinfeksi COVID-19,” jelasnya.

Dokter yang akrab disapa Anti itu melanjutkan, sampai saat ini penyebaran COVID-19 secara global masih sulit dikendalikan. Oleh karena itu, Pengurus Pusat PERKI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia) mendukung sepenuhnya program vaksinasi nasional COVID-19 yang pemberiannya telah dimulai sejak 13 Januari lalu sebagai upaya untuk mengurangi angka morbiditas serta mortalitas COVID-19. Sebagaimana diketahui, vaksin yang sudah tersedia di Indonesia adalah vaksin sinovac.

“Berdasarkan data uji klinis sinovac yang telah dikerjakan di Turki, Brazil, dan Bandung, belum didapatkan data yang cuku kuat terkait dengan keamanan pemberian vaksin pada kelompok individu dengan penyakit kardiovaskular. Namun, sebaiknya tetap memperhatikan beberapa hal yang terkait,” jelasnya.

Oleh karena itu, Pengurus Pusat PERKI memberikan rekomendasi bagi mereka dengan penyakit kardiovaskular yang dalam tiga bulan terakhir masih bergejala seperti sesak, berdebar, nyeri dada, mudah capek, mengalami keterbatasan melakukan aktivitas, kedua tungkai bengkak, dan penurunan kesadaran sepatutnya dipertimbangkan untuk tidak diberikan vaksin COVID-19 hingga tersedia data keamanan dalam uji klinik.

“Rekomendasi lain juga diberikan bagi penderita penyakit kardiovaskular yang dalam tiga bulan terakhir tidak mengalami gagal jantung, penderita hipertensi tanpa gejala dengan batasan tekanan darah terkontrol atau stabil (<140/90), dan penderita dengan penyakit jantung koroner yang sudah dikerjakan prosedur revaskularisasi komplit (stenting atau CABG) tidak bergejala selama tiga bulan terakhir layak diberikan vaksinasi,” paparnya.

Terakhir, Anti menyimpulkan, penderita penyakit kardiovaskular yang kondisinya stabil dan telah dilakukan pemeriksaan skrining kelayakan, dapat direkomendasikan untuk melakukan vaksinasi dalam rangka mendukung percepatan pencegahan transmisi COVID-19. (RSBS)

Sumber : Radar Jember (19/01/2121)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *