Cegah Covid-19 pada Penderita Diabetes Melitus

JEMBER – Spektrum klinis infeksi COVID-19 sangat bervariasi, mulai dari tanpa gejala atau hanya gejala ringan (80%) hingga bergejala berat (15%), bahkan 5% pasien membutuhkan perawatan intensif. Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap keparahan infeksi COVID-19 antara lain virulensi virus, lingkungan, dan faktor pasien. Usia lanjut atau adanya penyakit komorbid (misalnya diabetes, penyakit jantung, paru-paru ataupun kanker) tentu berpengaruh terhadap daya tahan tubuh pasien sehingga apabila terinfeksi COVID-19 akan menjadi lebih rentan jatuh ke dalam kondisi berat dan kematian.

Disampaikan oleh Dokter Spesialis Penyakit Dalam yang praktek di RS Bina Sehat Jember dr. Frida Lorita Hafidasari Pitoyo, Sp.PD, infeksi COVID-19 pada penderita diabetes tidak bisa dianggap remeh. Stres metabolik dan kerusakan pankreas akibat infeksi COVID-19 sering menyebabkan fluktuasi gula darah sehingga menjadi lebih sulit dikendalikan ke dalam rentang normal. Sementara itu, hiperglikemi sendiri dapat menekan sistem imun sehingga lebih sulit melawan virus dan menyebabkan penyembuhan yang lebih lama.

“Selain itu, kendali gula darah juga sulit diprediksi akibat adanya penurunan nafsu makan dan keluhan mual muntah yang sering menyertai infeksi COVID-19. Pada keadaan ini, dosis obat diabetes harus kembali disesuaikan guna mencegah efek samping yang tidak diinginkan, seperti gula darah drop (hipoglikemia),” jelas Frida.

Kondisi hiperkoagulasi (pembekuan berlebih) sering didapatkan pada pasien diabetes pada umumnya. Sementara pada kondisi hiperinflamasi (peradangan berlebih) akibat infeksi COVID-19 juga sering disertai peningkatan aktivitas koagulasi.

“Sehingga tak jarang diabetesi yang terinfeksi covid dapat mengalami serangan jantung, stroke, bahkan emboli paru yang mengakibatkan kematian mendadak,” katanya.

Frida menambahkan, mengingat besarnya risiko keparahan penyakit pada pasien diabetes, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan untuk mencegahnya yakni disiplin mematuhi protokol kesehatan, memonitor fluktuasi gula darah secara ketat dengan rutin melakukan pemeriksaan gula darah mandiri, mengkonsumsi cukup air dan makanan bergizi sesuai rekomendasi dokter, dan memeriksakan diri sedini mungkin bila mengalami gejala yang mengarah ke COVID-19.

“Penemuan kasus dan terapi adekuat sedini mungkin diharapkan dapat mengurangi angka kematian diabetesi yang terinfeksi COVID-19,” pungkasnya. (RSBS)

Sumber : Radar Jember (12/01/2121)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *