Kenali Virus HIV Di Tengah Pandemi COVID-19

Memperingati Hari AIDS Sedunia pada 1 Desember 2020

JEMBER – Sebelum pandemi COVID-19 menyerah seluruh dunia, HIV AIDS terlebih dahulu mendapatkan perhatian khusus yang kemudian setiap tanggal 1 Desember diperingati sebagai hari AIDS Sedunia. Pada tahun ini, peringatan tersebut menjadi momentum untuk lebih mengenal seputar virus HIV.

Disampaikan oleh dr. Dian Fitriyana, Dokter Pelayanan Inisiasi ARV di RS Bina Sehat Jember, HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh dan AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah kondisi dimana HIV sudah pada tahap infeksi akhir.

“Ada beberapa tahapan perkembangan infeksi oleh virus HIV pada tubuh manusia, antara lain tahap 1, tahap 2, dan tahap 3,” jelasnya.

Dian menjelaskan, pada tahap 1 (infeksi akut), umumnya seseorang yang terpapar virus HIV tidak akan langsung menunjukkan gejala. Adapun gejala yang muncul hanyalah flu biasa, sehingga pada tahap tersebut tidak memiliki gejala khas. Begitu pula pada tahap 2 (laten klinis) dimana tidak memiliki gejala, tetapi virus terus menyebar ke seluruh tubuh dan menyerang sistem kekebalan tubuh. Hal itu dapat berlangsung hingga 10 tahun bahkan lebih.
“Terakhir pada tahap 3, daya tahan tubuh turun sehingga mudah terserang penyakit, seperti demam terus-menerus, diare berkepanjangan, hingga infeksi jamur di mulut,” jelasnya.

Guna memastikan apakah seseorang mengidap HIV atau tidak, lanjut Dian, diperlukan pemeriksaan dengan mengambil sampel darah atau urine dengan jenis pemeriksaan tes antibodi atau tes antigen. Tes antibodi bertujuan untuk mendeteksi antibodi yang dihasilkan tubuh untuk melawan infeksi HIV. Tes ini memerluikan waktu 3 hingga 12 minggu agar jumlah antibodi cukup sehingga terdeteksi sat pemeriksaan.

“Sedangkan tes antigen bertujuan untuuk mendeteksi protein yang menjadi bagian dari virus HIV dan dapat dilakukan 2 hingga 6 minggu setelah pengidap terindikasi infeksi HIV,” terang Dian.
Dian menambahkan, virus HIV disebarkan melalui cairan tubuh yaitu darah (transfusi, jarum suntik, serta ibu ke anak) dan cairan kelamin (hubungan seks). Oleh karena itu, sebelum penyebaran tersebut terjadi penting untuk dilakukan pencegahan. Antara lain, tidak bergonta-ganti pasangan seks dan hindari penggunaan jarum suntik bergantian.

“Pencegahan harus dilakukan, apalagi hingga saat ini belum ada obat untuk menyembuhkan HIV, yang ada hanyalah obat untuk memperlambat perkembangan virus,” imbuhnya.

Terakhir, dalam masa pandemi seperti saat ini, Dian mengimbau ODHA untuk tetap mengonsumsi obat secara rutin dan tetap waspada dengan potensi penularan COVID-19. Setelah meminum obat bukan berarti tidak akan terpapar COVID-19. Sebab, terbukti bahwa COVID-19 dapat menyerang siapa saja dan kapan saja.

Sumber : Radar Jember (01/12/2020)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *