Waspada Diare dan Demam Berdarah

JEMBER – Selain Covid-19 yang sedang ramai diperbincangkan, diare dan demam berdarah patut diwaspadai, terutama saat musim pancaroba atau peralihan dari musim kemarau ke musim hujan.

Dijelaskan oleh dr. Tontowi Jauhari, Kepala Instalasi Rawat Inap RS Bina Sehat Jember, diare merupakan penyakit yang ditandai buang air besar (BAB) lebih sering dari biasanya dengan feses lebih encer dari biasanya. Meski diare bisa berlangsung singkat, tapi juga bisa berlangsung selama beberapa hari.

“Itu bisa disebabkan oleh kurangnya kesadaran menjaga kebersihan tangan, sumber air yang tidak bersih, serta penyimpanan dan persiapan makanan yang tidak bersih,” terangnya.

Gejalanya, antara lain BAB sehari 3 kali atau lebih, BAB lembek atau cair, tubuh lemas karena kurang cairan, terkadang disertai dengan mual dan muntah. Pada anak biasanya diawali dengan menjadi lebih cengeng dan gelisah, nafsu makan berkurang, mata cowong, kulit dan bibir kering.

Sementara itu, untuk demam berdarah, lanjut Tontowi, merupakan penyakit menular yang dapat menimbulkan wabah. Penyakit ini menjadi salah satu masalah kesehatan di Indonesia yang dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat jika tidak segera ditangani.

“Umumnya penularan demam berdarah melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti. Oleh karena itu, perlu untuk melakukan pencegahan terhadap agar tidak terjangkit demam berdarah,” lanjutnya.

Tontowi menjelaskan, pada demam berdarah diketahui ada 3 fase, yakni fase infeksi, fase kritis, dan fase penyembuhan. Pada fase infeksi demam berdarah masih sulit dikenali karena gajalanya mirip dengan penyakit tifus atau influenza, seperti panas, muntah, nyeri sendi, dan sakit kepala. Fase kritis ditandai dengan suhu tubuh yang turun diiringi dengan timbulnya ruam kulit dan perdarahan.

“Sedangkan fase penyembuhan dapat diketahui dengan suhu tubuh akan kembali normal bahkan sedikit berkeringat, nafsu makan membaik, dan badan mulai terasa segar,” pungkasnya.

Tontowi menambahkan, untuk Covid-19 bisa jadi tidak bergejala, demam atau pernah demam, gejala ringan ganguan saluran pernafasan seperti batuk, pilek, nyeri tenggorokan, hingga yang paling berat yakni sesak nafas hebat dan mendadak hingga disertai penurunan kesadaran dan penurunan konsentrasi oksigen di dalam tubuh.
“Diare juga merupakan salah satu tanda dari penyakit Covid-19, selain gangguan atau keluhan saluran pernafasan. Hal ini disebabkan karena virus Covid-19 juga bisa menyerang saluran cerna,” imbuhnya.

Terakhir, Tontowi juga mengimbau agar masyarakat dapat berpartisipasi aktif dalam pencegahan penyebaran Covid-19. Caranya dengan menjaga jarak dengan orang lain, selalu memakai masker, dan sering cuci tangan dengan sabun atau memakai handsanitizer.

“Masker sendiri harus yang sesuai, yakni minimal menggunakan masker kain 3 lapis, bukan Scuba,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: